Mata yang lelah mulai terelap. Waktu itu, pukul enam sore lebih. Di bus itu hanya tersisa aku dan sepasang supir dan asistennya.
Perjalanan yang singkat, nangor-bandung. Namun, hari yang melelahkan, seminggu penuh berlalu-lalang dengan tugas paper dan UAS.
Masih diperjalan, setelah melepas kantuk, ku mulai tersadar bahwa perjalanan sudah melewati setengahnya.
Supir : Neng, baru selesai kuliah ya? Ga takut pulang malem sendiri?
Aku : Iya a, ngga ko udah biasa.
Supir : Kuliah yang bener ya, Neng. Jangan kaya saya, suka ngebohongin orang tua, uang kuliah malah dipake buat main cewe (read: pacaran) sama drugs. Jadi hasilnya kaya gini. Beda sama kaka-kaka saya yang berhasil, punya kerjaan layak.
Aku : Oh iya, a....
Supir : Pokoknya kuliah yang bener ya, Neng. Saya aja suka minder kalau ngelamar kerja gapunya ijazah sarjana. Suka dipandang sebelah mata.
Aku : Oh..... iya, a.
Supir : Tuh temen saya aja (read:asisten supir) kasian harus banting tulang cuman buat bayarin uang kuliah adiknya, sama harus ngerelain gak nikah dulu padahal umurnya udah 34 tahun.
Di belakang bus sana, terlihat ada seorang laki-laki (read:asisten supir) yang sedang tidur berbaring terlelap.
Ah kalian, terimakasih sudah membuatku semakin bersyukur dan harus semakin bersabar.
Bahwa setiap kesempatan yang mungkin kita sia-siakan, adalah kesempatan yang orang lain usahakan.
Bahwa kelelahan-kelelahan sekarang adalah bentuk pengharapan atas penyeselan terdahulu.
Dan bahwa kesempatan itu mahal harganya.
Supir : Ai, Eneng berapa bersaudara?
Aku : 13 a.
Supir : Hah? Jangan bercanda, Neng.
Aku : Eh beneran, a.
Supir : Semuanya kuliah itu teh Neng?
Aku : Iya, a.
Supir : Wah gila ajip banget lah. Itu setahun hiji kayanya.
Aku : Hahahaha.
Supir : Bapaknya pasti pengusaha ya?
Aku : Wiraswasta biasa ko, a.
Tiba-tiba lelaki yang tertidur dibelakang mulai menghampiri dan masuk ke perbincangan.
Supir : Si eneng ieu 13 bersaudara siah! (ngomong ke temennya)
Temennya : Hah? Serius?
Aku : Iya, hehehe.
Supir : Ai eneng asli orang mana?
Aku : Bandung, a.
Supir : Hah? Kirain orang Palembang, atau Manado gitu. Soalnya mukanya kaya yang galak-galak,jutek, serem gitu.
Aku : Hah? Bandung ko, a.
Temennya : Orang tua asli bandung, Neng?
Aku : Iya, a.
Supir : Jigana lamun urang punya anak seloba itu, nyupiran bakal ngebut seminggu eun. Buat kejar setoran. Kerjanya ge jigana bajal lebih semangat.
Aku : Hahaha.
Supir : Neng, pokonya salam ya buat Bapak, salut gila! Salam gitu dari tukang supir damri.
Pah, bahkan orang-orang yang belum mengenalmu saja sudah mengagumimu.
Ah aku semakin mengerti bagaimana perjuanganmu, lelah-letihmu, pengharapanmu, untuk anak-anakmu.
Dan sekarang, aku ada di posisi penopang hal itu.
Menjadi seorang istri dari si pejuang.
Bahkan, posisi itu aku emban sebelum aku mampu membalas semua kebaikanmu.
Ah lagi-lagi aku semakin bersyukur.
Alhamdulillahirabbil Alamin.
Bandung, 22 Desember 2015.
Your little daughter.
Komentar
Posting Komentar