Namanya juga pasar minggu.
Rame.
Padet.
Aku yang menggunakan tas selempang pemberian Papah jalan dibelakang. Didepanku ada Teh Zahra, Neng Adah dan Teh Mpi.
Sambil asik berbincang-bincang ditengah kerimbunan orang, kita berjalan-jalan.
Tangan kananku yang ku tumpukan pada tas selempang itu, tiba-tiba merasa ada yang meraba-raba.
Dengan spontan, ku hentakan tangan kanan dan berbalik kebelakang.
Dibelakangku terlihat ada ibu-ibu menggunakan jilbab dengan memegang tas besar di tangan kanannya merasa kaget. Ibu itu tiba-tiba membalikan badannya dan seolah melihat baju-baju.
Ku lihat sleting tas ku sudah terbuka 3/4nya.
Copet!
Tapi aku tidak berani berteriak,
Takut suudzon.
Dan ketika aku menengok kebelakang lagi.
Copet itu sudah pergi.
Astagfirullah.
Jaman sekarang.
Esensi jilbab memang sudah mulai dipertanyakan.
Ini tentang pembentukan kepribadian yang seharusnya dicerminkan oleh wanita berjilbab.
Semakin banyak orang yang berfikir, "Belum tentu orang yang berjilbab, hati dan perilakunya sudah bener, ah lebih baik benerin hati dulu baru jilbaban!"
Hey! Jilbab itu kewajiban, dan tentang perilaku yang muncul itu tentang tanggung jawab.
Tanggung jawab akan muncul dari kewajiban yang diemban.
Bayangkan, kalau wanita yang sudah memiliki perilaku dan hati yang baik, namun belum memeneuhi kewajiban.
Apa nilainya?
Nol.
Karena tanggungjawab yang ia lakukan belum berada dalam wadah yang seharusnya.
Ibaratnya,
Ada dua lukisan indah, yang satu menjadi lukisan indah di tembok jalanan, dan yang satu lagi ada di figura musium lukisan.
Kira-kira mana yang akan dibeli? :)
Ya, yang lukisannya berada pada 'wadah' seharusnya.
Namun, apa jadinya kalau sudah memenuhi kewajiban, namun perilakunya tidak bertanggung jawab?
Berarti ia belum mampu memahami makna jilbab itu.
Walaupun sudah berada dalam figura musium lukisan, namun lukisan yang ditampilkan tidak bagus.
Siapa yang akan beli? :)
Tapi bukankah lebih sulit untuk memindahkan lukisan dijalanan ke figura di musium?
Di banding berusaha belajar melukis yang bagus?
Yuk jadi wanita yang berjilbab dan bertanggung jawab.
Aku juga masih dan akan terus belajar 'melukis yang indah dan benar'.
Karena hidup ini tentang jual beli.
Dengan Dia yang Maha adil timbangannya.
Dengan Dia yang Maha teliti.
Dengan Dia yang Maha halus, mengetahui seluk-beluk yang tidak ketahui.
Maka, jadilah penjual yang baik dan bertanggung jawab! :)
Dan untuk ibu pencopet disana.
Semoga terbuka fikiran dan hatinya, untuk memahami esensi jilbab yang sebenernya.
Kalau sekedar untuk menutupi rambut dan sebagian muka.
Tukang bangunan juga menggunakan 'jilbab'.
Tukang becak juga menggunakan 'jilbab'.
Ah terus apa bedanyakan?
Rame.
Padet.
Aku yang menggunakan tas selempang pemberian Papah jalan dibelakang. Didepanku ada Teh Zahra, Neng Adah dan Teh Mpi.
Sambil asik berbincang-bincang ditengah kerimbunan orang, kita berjalan-jalan.
Tangan kananku yang ku tumpukan pada tas selempang itu, tiba-tiba merasa ada yang meraba-raba.
Dengan spontan, ku hentakan tangan kanan dan berbalik kebelakang.
Dibelakangku terlihat ada ibu-ibu menggunakan jilbab dengan memegang tas besar di tangan kanannya merasa kaget. Ibu itu tiba-tiba membalikan badannya dan seolah melihat baju-baju.
Ku lihat sleting tas ku sudah terbuka 3/4nya.
Copet!
Tapi aku tidak berani berteriak,
Takut suudzon.
Dan ketika aku menengok kebelakang lagi.
Copet itu sudah pergi.
Astagfirullah.
Jaman sekarang.
Esensi jilbab memang sudah mulai dipertanyakan.
Ini tentang pembentukan kepribadian yang seharusnya dicerminkan oleh wanita berjilbab.
Semakin banyak orang yang berfikir, "Belum tentu orang yang berjilbab, hati dan perilakunya sudah bener, ah lebih baik benerin hati dulu baru jilbaban!"
Hey! Jilbab itu kewajiban, dan tentang perilaku yang muncul itu tentang tanggung jawab.
Tanggung jawab akan muncul dari kewajiban yang diemban.
Bayangkan, kalau wanita yang sudah memiliki perilaku dan hati yang baik, namun belum memeneuhi kewajiban.
Apa nilainya?
Nol.
Karena tanggungjawab yang ia lakukan belum berada dalam wadah yang seharusnya.
Ibaratnya,
Ada dua lukisan indah, yang satu menjadi lukisan indah di tembok jalanan, dan yang satu lagi ada di figura musium lukisan.
Kira-kira mana yang akan dibeli? :)
Ya, yang lukisannya berada pada 'wadah' seharusnya.
Namun, apa jadinya kalau sudah memenuhi kewajiban, namun perilakunya tidak bertanggung jawab?
Berarti ia belum mampu memahami makna jilbab itu.
Walaupun sudah berada dalam figura musium lukisan, namun lukisan yang ditampilkan tidak bagus.
Siapa yang akan beli? :)
Tapi bukankah lebih sulit untuk memindahkan lukisan dijalanan ke figura di musium?
Di banding berusaha belajar melukis yang bagus?
Yuk jadi wanita yang berjilbab dan bertanggung jawab.
Aku juga masih dan akan terus belajar 'melukis yang indah dan benar'.
Karena hidup ini tentang jual beli.
Dengan Dia yang Maha adil timbangannya.
Dengan Dia yang Maha teliti.
Dengan Dia yang Maha halus, mengetahui seluk-beluk yang tidak ketahui.
Maka, jadilah penjual yang baik dan bertanggung jawab! :)
Dan untuk ibu pencopet disana.
Semoga terbuka fikiran dan hatinya, untuk memahami esensi jilbab yang sebenernya.
Kalau sekedar untuk menutupi rambut dan sebagian muka.
Tukang bangunan juga menggunakan 'jilbab'.
Tukang becak juga menggunakan 'jilbab'.
Ah terus apa bedanyakan?
Bandung, 20 Desember 2015.
Syifaya Qorina
Cuman sekedar renungan.
Komentar
Posting Komentar