Mata yang lelah mulai terelap. Waktu itu, pukul enam sore lebih. Di bus itu hanya tersisa aku dan sepasang supir dan asistennya. Perjalanan yang singkat, nangor-bandung. Namun, hari yang melelahkan, seminggu penuh berlalu-lalang dengan tugas paper dan UAS. Masih diperjalan, setelah melepas kantuk, ku mulai tersadar bahwa perjalanan sudah melewati setengahnya. Supir : Neng, baru selesai kuliah ya? Ga takut pulang malem sendiri? Aku : Iya a, ngga ko udah biasa. Supir : Kuliah yang bener ya, Neng. Jangan kaya saya, suka ngebohongin orang tua, uang kuliah malah dipake buat main cewe (read: pacaran) sama drugs. Jadi hasilnya kaya gini. Beda sama kaka-kaka saya yang berhasil, punya kerjaan layak. Aku : Oh iya, a.... Supir : Pokoknya kuliah yang bener ya, Neng. Saya aja suka minder kalau ngelamar kerja gapunya ijazah sarjana. Suka dipandang sebelah mata. Aku : Oh..... iya, a. Supir : Tuh temen saya aja (read:asisten supir) kasian harus banting tulang...