Pernah aku membayangkan, mungkin jika aku tidak bertemu
kamu, aku tidak akan mengenal perempuan dewasa, rajin dan teliti sepertimu.
Mungkin aku tidak akan mengenal perempuan yang mampu
menengahi masalah orang lain sepandai dirimu.
Mungkin aku tidak akan mengenal perempuan semenyenangkan
kamu.
Terimakasih Pak Djumhana dan Istrinya, karena lewat
merekalah Dia Yang Maha Pengasih menciptakanmu, untuk kemudian bertemu aku, di
tempat bernama HI (Hubungan Internasional).
Namanya, Febisa Huzainifah Fasichatun. Gadis cantik mojang
kuningan. Mantan ketua OSIS SMP. Juara menyanyi dangdut sekuningan.
Aku membayangkan, kita duduk bersama, kamu dengan kerudung
pinkmu, aku dengan kerudung abuku. Aku membuka pembicaraan,
Feb, kita sama-sama sedang menghadapi usia 20-an, apa yang
orang sebut quarter life crisis. Ah
entahlah kenapa mereka bisa memacu umur manusia sebesar 100 tahun. Padahal siapa
yang tahukan?
Diusia ini kita mulai berpikir;
Kita butuh terjatuh untuk kemudian bangkit.
Kita butuh merasa sendiri untuk kemudian merasa benar-benar
dirangkul.
Kita butuh kecewa untuk kembali berharap.
Kita butuh pergi untu kemudian dapat kembali pulang.
Karena hidup ini belajarkan?
Karena hidup ini proseskan?
Aku dan kamu pernah merasa tersakiti, entah karena hal
cinta, pertemanan, keluarga, atau pendidikan. Namun, kemudian kita belajar,
bahwa untuk menjadi air yang jernih, kita tidak boleh tergenang dalam sebuah
lubang, kita harus terus mengalir. Maka aku dan kamu belajar untuk sama-sama
bangkit. Karena dia yang Maha Kuasa tidak akan memberikan ujian melampaui batas
kemampuan hambanya. Tapi ini bukan alasan untuk kita menjadi lembek.
Aku dan kamu pernah merasa sendiri, seolah tidak seorangpun
mampu memahami permasalahan kita. Namun, kita belajar, bahwa tanpa kita
bersuara, berkata, menangis, tersenyum, ada Dia yang selalu bersama kita. “Dan
Kami lebih dekat dengannya, dari urat lehernya.”
Aku dan kamu pernah merasa kecewa, kecewa dalam hal apapun. Namun,
kita belajar, karena kecewa itu akan hadir ketika kita menggantungkan sesuatu
kepada manusia atau materil. “Padahal hanya kepadaNya lah kita bergantung.”
Aku dan kamu kini sedang berpergian jauh, berkelana di dunia
ini, kamu dengan cita-citamu, aku dengan cita-citaku. Namun, kita belajar,
bahwa suatu saat nanti kita akan kembali pulang, kepada Dia Yang Maha Memiliki.
Pertanyaannya, rumah mana yang akan kita tuju?
Feb, mungkin banyak orang berkata;
“Selamat ulang tahun......”
Ah, mungkin kita terjebak dengan logika umur. Ketika seseorang diberi coklat satu kotak,
dengan jumlah keping yang tidak diketahui. Mengapa orang-orang dengan bangga
menghitung jumlah coklat yang dimakannya? Bukannya merasa gelisah dengan jumlah
coklat yang tersisa entah berapa keping lagi? Karena kita tidak tahu, dia yang
memberi coklat memberi kita berapa keping coklat. Dan ketika coklat itu habis,
kita tidak dapat menikmatinya lagi. Begitu juga hidup.
Aku hanya berharap, diusia mu dan aku yang terus berjalan,
kita mampu memaksimalkannya.
Aku tidak tahu berapa jumlah keping coklatku yang tersisa,
kamu tidak tahu jumlah keping coklatmu yang tersisa. Kita sama-sama tidak tahu.
Kita sama-sama dewasa. Jangan terlalu muluk-muluklah.
Aku hanya berharap, kita bertemu di rumah yang sama.
Karena kehidupan dunia ini hanya senda gurau.
Feb, mari berjalan bersama diatas usia!
Till we meet ini Jannah, Feb.
Sincerely,
Someone who want to be your truly friend.
Syifaya Qorina.
Komentar
Posting Komentar