Langsung ke konten utama

Feb, Mari Berjalan Bersama diatas Usia!


Pernah aku membayangkan, mungkin jika aku tidak bertemu kamu, aku tidak akan mengenal perempuan dewasa, rajin dan teliti sepertimu.

Mungkin aku tidak akan mengenal perempuan yang mampu menengahi masalah orang lain sepandai dirimu.

Mungkin aku tidak akan mengenal perempuan semenyenangkan kamu.

Terimakasih Pak Djumhana dan Istrinya, karena lewat merekalah Dia Yang Maha Pengasih menciptakanmu, untuk kemudian bertemu aku, di tempat bernama HI (Hubungan Internasional).

Namanya, Febisa Huzainifah Fasichatun. Gadis cantik mojang kuningan. Mantan ketua OSIS SMP. Juara menyanyi dangdut sekuningan.

Aku membayangkan, kita duduk bersama, kamu dengan kerudung pinkmu, aku dengan kerudung abuku. Aku membuka pembicaraan,

Feb, kita sama-sama sedang menghadapi usia 20-an, apa yang orang sebut quarter life crisis. Ah entahlah kenapa mereka bisa memacu umur manusia sebesar 100 tahun. Padahal siapa yang tahukan?

Diusia ini kita mulai berpikir;

Kita butuh terjatuh untuk kemudian bangkit.

Kita butuh merasa sendiri untuk kemudian merasa benar-benar dirangkul.

Kita butuh kecewa untuk kembali berharap.

Kita butuh pergi untu kemudian dapat kembali pulang.

Karena hidup ini belajarkan?

Karena hidup ini proseskan?

Aku dan kamu pernah merasa tersakiti, entah karena hal cinta, pertemanan, keluarga, atau pendidikan. Namun, kemudian kita belajar, bahwa untuk menjadi air yang jernih, kita tidak boleh tergenang dalam sebuah lubang, kita harus terus mengalir. Maka aku dan kamu belajar untuk sama-sama bangkit. Karena dia yang Maha Kuasa tidak akan memberikan ujian melampaui batas kemampuan hambanya. Tapi ini bukan alasan untuk kita menjadi lembek.

Aku dan kamu pernah merasa sendiri, seolah tidak seorangpun mampu memahami permasalahan kita. Namun, kita belajar, bahwa tanpa kita bersuara, berkata, menangis, tersenyum, ada Dia yang selalu bersama kita. “Dan Kami lebih dekat dengannya, dari urat lehernya.”

Aku dan kamu pernah merasa kecewa, kecewa dalam hal apapun. Namun, kita belajar, karena kecewa itu akan hadir ketika kita menggantungkan sesuatu kepada manusia atau materil. “Padahal hanya kepadaNya lah kita bergantung.”

Aku dan kamu kini sedang berpergian jauh, berkelana di dunia ini, kamu dengan cita-citamu, aku dengan cita-citaku. Namun, kita belajar, bahwa suatu saat nanti kita akan kembali pulang, kepada Dia Yang Maha Memiliki. Pertanyaannya, rumah mana yang akan kita tuju?

Feb, mungkin banyak orang berkata;

“Selamat ulang tahun......”

Ah, mungkin kita terjebak dengan logika umur.  Ketika seseorang diberi coklat satu kotak, dengan jumlah keping yang tidak diketahui. Mengapa orang-orang dengan bangga menghitung jumlah coklat yang dimakannya? Bukannya merasa gelisah dengan jumlah coklat yang tersisa entah berapa keping lagi? Karena kita tidak tahu, dia yang memberi coklat memberi kita berapa keping coklat. Dan ketika coklat itu habis, kita tidak dapat menikmatinya lagi. Begitu juga hidup.

Aku hanya berharap, diusia mu dan aku yang terus berjalan, kita mampu memaksimalkannya.

Aku tidak tahu berapa jumlah keping coklatku yang tersisa, kamu tidak tahu jumlah keping coklatmu yang tersisa. Kita sama-sama tidak tahu.
Kita sama-sama dewasa. Jangan terlalu muluk-muluklah.


Aku hanya berharap, kita bertemu di rumah yang sama.


Karena kehidupan dunia ini hanya senda gurau.


Feb, mari berjalan bersama diatas usia!



Till we meet ini Jannah, Feb. 




Sincerely, 
Someone who want to be your truly friend.

Syifaya Qorina.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kue Donat untuk Abdan & Abat

Abdan   : Tante Iie mau bikin kue donat lagi kaya kemarin! Abat      : Aku juga mau tante Iie. Abdan   : Ih Abat mah ganyobain donat kemarin, enak tau! Aku       : Yuk atuh yu bikin lagi, sini! dan hasilnya..... *TADAM!!!!* Maafkan ateu mu yang belum jago masak dan bikin kue ya. #Harus belajar lagi. #AdonannyaKeenceranMulu #JadiBentuknyaBulet-BuletDoang Cijaura, 22 Desember 2015 Ateu Iie (20 tahun) dan Abdan & Abat (6 tahun)

Lesson.

A few days before, i got a good lesson about; harus gimana nanggepin dan ngejalanin hidup ini--kasarnya sih gitu--, but in general point of view yak! A success enterpreneur, Steve Jobs told about his way that brought him as who is he now. That is; Connecting the dots, You cant connect the dots looking forward, you can only connet the dots looking backward. So you have to trust that the dots will somehow connect you in your future. This approach has never let me down, and it has made all the different in my life. Love and Loss, I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what i did. You've got to find what you love. Death. Your time is limited, so dont wasted it living someone else's life.... and most important, have the courage to follow your heart and intuition.  Gausah dijelasin ya gimana maksudnya, I guess you understand what he mean. p.s: Ini materi kuliah kewirausahaan, yang superduper enak banget penjelasannya. Dan...

Teka-Teki Silang dan Memancing.

Katanya, apa yang kamu suka adalah bentuk karaktermu. Dari dulu, kalau diajak Papah mancing, suka bingung. Apa ramenya mancing? Cuman diem, nunggu semaleman dan kepanasan. Tapi Papah kalau pulang mancing suka bawa ikan banyak, Sampe satu kulkas gak cukup. Dulu suka bingung, kenapa tiap hari harus sedia buku TTS di meja TV Papah. Papah bisa seharian ngerjain buku TTS. Dan buku-buku TTS udah banyak ketumpuk di sudut ruangan. Sekarang mulai ngerti. New York Times merilis, orang dengan hobi memancing memiliki daya analisis yang mendalam dan kritis. Dalam film  The Imitation Game  (kisah nyata), orang berintelegensi dan berintelektual tinggi di rekrut lewat lomba pengisian TTS. And it's so you, Dad. Kalau ditanya permasalahan-permasalahan, selalu dijawab singkat tapi mendalam.